jump to navigation

Bau Mulut Pertanda Gigi Berlubang July 31, 2008

Posted by sendalteklek in Kesehatan.
Tags:
trackback

GIGI tak sekadar aksesori di mulut. Gigi pun wajib dijaga kesehatannya. Nah, status gigi sehat dapat dilihat dari ada tidaknya karies atau gigi yang berlubang.

Dokter gigi dari Universitas Indonesia, DrdrgIndirawati Tjahja N SpPerio menegaskan, status kesehatan gigi dan mulut pada seseorang dapat dideteksi melalui adanya lubang gigi (karies) dan penyakit gusi (penyakit periodontal). “Banyak faktor yang menyebabkan seseorang mengalami penyakit gigi berlubang, dan masalah gigi berlubang ini adalah masalah terbanyak,” ujar dokter yang praktik di RS Saint Carolus di daerah Salemba Raya ini.

Dia mengatakan, penyebab penyakit tersebut adalah akumulasi plak dari kebersihan mulut yang buruk. Umumnya, karies ini sudah ditemukan dalam keadaan yang sudah parah atau sudah lanjut.

“Karies ditimbulkan dari plak, yang terjadi karena melakukan gosok gigi yang kurang bersih. Di dalam mulut terdapat banyak kuman yang bersarang,” ucap dokter yang baru saja meraih gelar doktor pada Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.

Plak gigi adalah suatu lapisan bening, yang sangat tipis, terdiri dari mucusdan kumpulan bakteri yang menyelimuti permukaan gigi. Plak gigi hanya dapat dilihat dengan pewarnaan pada gigi. Pewarna yang digunakan juga khusus dikenal dengan nama disclosing agent. “Dari adanya plak ini, pelan- pelan lubang akan timbul dari yang kecil, dan akhirnya membesar,” tutur Indirawati.

Dia menambahkan, air liur juga bisa menjadi faktor. Di dalam mulut ini, terdapat dua jenis air liur, yaitu jenis asam dan basah. Biasanya, pada seseorang yang mempunyai air liur basah cenderung tidak mempunyai lubang pada gigi. Berbeda dengan air liur jenis asam yang lebih banyak menyebabkan karies.

“Untuk masalah gigi berlubang ini, awalnya bermula dari faktor makanan. Selain itu, juga faktor air ludah juga ikut memengaruhi,” sebut dokter yang juga berprofesi sebagai peneliti di Litbang Departemen Kesehatan RI.

Pada anak-anak misalnya, beberapa jenis makanan bisa berpengaruh. Sebut saja seperti makanan yang terlalu banyak mengandung gula. Misal pada susu botol yang mereka konsumsi karena kandungan karbohidrat yang banyak.

“Semua makanan yang dikonsumsi anak-anak hendaknya mendapat pengawasan dari orangtuanya,” ujarnya.

Indirawati melanjutkan, faktor lingkungan juga memengaruhi. Misalnya saja ada orang yang mengatakan bahwa biaya perawatan yang mahal sehingga membuat seseorang semakin malas ke dokter gigi.

“Banyak yang menyepelekan penyakit karies. Mereka tidak memedulikannya. Padahal jika penyakit ini dibiarkan, akan menimbulkan berbagai macam penyakit. Salah satunya kanker mulut,” ucapnya

Dokter yang juga praktik di rumahnya di kawasan Cempaka Putih ini menambahkan, bau mulut pada seseorang juga menjadi faktor akibat adanya karies.

Penyebabnya, mulut yang mempunyai banyak kuman ini jika terdapat lubang, maka kuman akan terus masuk ke dalam gigi dan akan berkembang biak sehingga akan menimbulkan bau. “Jika keadaan gigi atau mulut seseorang bersih, maka bau mulut tidak akan datang,” ujarnya.

Pernyataan yang sama mengenai bau mulut ini juga dilontarkan dokter gigi dari Universitas Dr Moestopo (beragama) Drg Lita Darmawan.

“Bau mulut atau halitosis, penyebab umumnya adalah penyakit jantung, diabetes, atau gangguan pencernaan, sedangkan penyebab lokalnya adalah lubang gigi, karang gigi, dan sisa makanan,” ucap Lita yang juga pakar estetika gigi dari klinik Kharinta Dental di kawasan Bintaro.

Lita menuturkan, tandatanda dari bau mulut ini adalah mulut kering, air liur kental, dan tidak nyaman untuk berbicara. Itu penyebabnya adalah keseimbangan asam mulut yang hilang.

Indirawati mengatakan, gigi adalah faktor lokal infeksi terhadap kesehatan di seluruh tubuh seseorang. Hal itu karena kuman yang ada di dalam gigi akan terbawa ke seluruh tubuh sehingga menimbulkan penyakit. “Itulah mengapa penting menjaga kesehatan gigi,” pesannya.

Luangkan Waktu, Gelar “Ritual” Perawatan Gigi di Rumah

UMUMNYA faktor penyebab datangnya karies adalah kurangnya kesadaran atau ketidaktahuan masyarakat akan pentingnya kesehatan mulut. Terlebih biaya perawatan yang tinggi dan perilaku dokter gigi yang pasif cenderung memberi pelayanan kuratif terhadap pasien.

“Dalam keseharian, diharapkan ada kerja sama antara pasien yang menderita karies (faktor umur dan jenis kelamin), rumah sakit (dari pihak dokter gigi yang merawat), dan puskesmas yang dapat meningkatkan kesehatan pada gigi,” ujar Indirawati. Sebenarnya perawatan dalam menjaga kesehatan gigi ini mudah dilakukan. Cukup dari hal yang sederhana saja, yaitu perawatan yang dilakukan di rumah atau yang dikenal dengan homecare.

Ada tiga “ritual” membersihkan gigi di rumah (homecare) yang dianjurkan oleh dokter gigi di dunia: menyikat gigi, berkumur, dan menggunakan benang gigi. Di Indonesia, penggunaan obat kumur antiseptik juga telah mendapat rekomendasi dari Persatuan Dokter Gigi Indonesia sebagai salah satu syarat untuk mencegah timbulnya penyakit mulut dan gigi.

“Banyak orang yang mengabaikan pentingnya homecare setelah perawatan yang meliputi menyikat gigi, berkumur, dengan obat kumur antiseptik dan menggunakan benang gigi, atau dental fluss,” kata Lita yang mengikuti program kursus mengenai perawatan gigi di Amerika Serikat.

Banyak pasien datang dengan tuntutan ingin segera mendapatkan gigi yang sempurna, baik warna maupun bentuk. Mereka pun tidak segan mengeluarkan biaya besar untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Alangkah sia-sianya semua usaha ini jika pasien tidak melakukan perawatan kesehatan gigi di rumah untuk mempertahankan hasil perawatan dokter gigi.

“Kelalaian melakukan homecare akan mengakibatkan kegagalan perawatan dan meningkatnya biaya perawatan gigi,” tutur Lita saat seminar diselenggarakan oleh produk obat kumur Listerine. Banyak kebiasaan sehari-hari yang menambah rusak gigi.

Membersihkan gigi dengan cara yang salah, misalnya. Begitu juga dengan terlalu jarang membersihkan gigi hingga plaknya masih melekat pada gigi, mengonsumsi makanan yang memiliki daya rusak tinggi terhadap gigi, merokok, minuman kopi, dan meminum minuman beralkohol terlalu banyak.

Menurut dokter gigi dari Universitas Trisakti, drg Joko Kusnoto DDS, MS, PhD, untuk mencegah masalah yang terjadi pada gigi, selain menyikat bisa pula berkumur dengan obat kumur. “Obat kumur antiseptik bisa digunakan untuk membersihkan daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh sikat gigi, pasien dianjurkan menggunakan obat kumur,” ucap dokter mengajar pada Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti itu.

Lita menilai sebagian orang menganggap perawatan gigi kurang penting, tetapi jika mereka sudah merasa sakit, barulah mereka merasa bahwa merawat gigi itu penting.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: